Beberapa pemain Fintech mengembalikan tanda daftar ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ruang Fintech — Beberapa pemain Fintech mengembalikan tanda terdaftar ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) karena kesulitan melanjutkan kegiatan operasional. Ini membuka kesempatan bagi merger atau akuisisi untuk pemain pinjaman Fintech.

Menurut catatan, ada juga sembilan pinjaman Fintech yang mengembalikan tanda terdaftar mereka pada bulan September.

Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) 2B Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bambang W Budawan mengatakan, bisnis yang kurang berkembang menjadi alasan.

“Mereka menawarkan model bisnis yang tidak dapat memperoleh minat atau antusiasme pengguna. Sehingga pendapatannya kecil / rendah dan tidak dapat mempertahankan biaya,” kata Bambang.

Selain itu, masalah modal juga alasan pinjaman Fintech tidak lagi dapat beroperasi karena kehabisan modal. Di POJK No. 77/2016 yang saat ini berlaku untuk persyaratan memberi modal  minimum sebesar Rp 2,5 miliar dan menurut Bambang itu terlalu kecil.

Indonesia telah mengurangi 42 jumlah pinjaman fintech sepanjang 2021, inilah alasan jumlah pinjaman Fintech di Indonesia telah berkurang 42 sepanjang 2021, inilah alasannya

Oleh karena itu, Bambang mengatakan bahwa saat ini OJK sedang mempersiapkan peraturan baru dalam hal  penyetoran peningkatkan modal sebagai syaratnya.

“Banyak di antaranya untuk setoran di atas Rp. 2,5 miliar, tetapi tidak dapat bertahan hidup. Dengan meningkatnya penyetoran modal, prediksinya akan bertemu pada fase awal sebelum dapat menghasilkan keuntungan,” tambahnya.

Kesempatan akuisisi dapat saja terjadi

Fenomena membuka kesempatan bagi merger atau benar-benar mengakuisisi pemain pinjaman Fintech yang memiliki pangsa pasar yang besar.

Bambang tidak memberhentikan hal ini dan mengatakan bahwa POJK baru akan memiliki syarat dan ketentuan pedoman dalam proses merger atau akuisisi.

“Namun, kami belum menerima pengajuan merger / akuisisi antara platform saat ini,” kata Bambang.

Sebelumnya, pemain pinjaman Fintech Amartha, yang sekarang telah melakukan total dana sebesar Rp 4,46 triliun, pernah mengatakan bahwa itu tidak mengesampingkan kemungkinan bekerja sama dengan beberapa pemain fintech lainnya. Selama, ada juga kesamaan visi dengan yang saat ini dibawa oleh Amartha.

✅✅👉 Baca Juga:  Begini Cara Pantau SLIK OJK, Biar Nama Kamu Tidak Masuk Daftar Kredit Macet

“Jika ada juga pemain lain, itu tidak terbatas pada Fintech, jika Anda dapat membantu upaya kami, kami terbuka untuk berdiskusi,” kata Hadi Wenas, Chief Commercial Officer Amartha.

Hanya saja Wenas menambahkan bahwa saat ini tidak ada juga rencana khusus untuk mengambil akuisisi pemain lain untuk mewujudkan visi Amartha